Senin, 03 Oktober 2016

PSIKOLOGI MANAJEMEN

Nama : Sherly Anggraeni . NPM : 1A514226 . Kelas : 3PA10 . Tugas 1 . Deadline : 4 Oktober 2016 . Pukul 21:00

PSIKOLOGI MANAJEMEN ?

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Stoner).

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia.

Jadi, pengertian psikologi manajemen
Ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan atau dengan kata lain suatu studi tentang tikah laku manusia yang terlibat dalam proses manajemen dalam rangka melaksanakan fungsi-fungsi manajeman untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kaitannya dan tujuannya dengan psikologi
Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun. Pasalnya, ilmu psikologi yg memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan.
Dengan adanya psikologi manajemen, kinerja SDM akan terkontrol dengan baik dan tingkat produktivitas meningkat.

Jenis – Jenis Manajemen
Berdasarkan Hirarki :
  1. Manajemen puncak : Bertanggung jawab terhadap keseluruhan kegiatan (Direktur – direktur, CEO).
  2. Manajemen menengah : Melaksanakan tujuan, strategi dan kebijakan yang telah dilakukan manajemen puncak, mengkoordinasikan dan mengarahkan aktivitas tingkat bawah dan karyawan (Manajer pemasaran, manajer produksi, dll).
  3. Manajemen tingkat bawah : Mengawasi karyawan secara langsung (Supervisor, pengawas, dll).
Berdasarkan Fungsi :
  1. Manajer umum : Mengawasi unit tertentu yang mempunyai beberapa tanggung jawab sekaligus (Manager divisi).
  2. Manajer Fungsional : Bertanggung jawab terhadap suatu aktivitas (Manajer pemasaran, manajer keuangan, dll).
 Fungsi Manajemen
  1. Perencanaan (Planning)
  2. Pengorganisasian (Organizing)
  3. Pengarahan  (Directing)
  4. Pengawasan dan Pengendalian (Controlling)

  1. Fungsi Perencanaan (Planning)
Proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat  untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi.

Kegiatan dalam Fungsi Perencanaan
  • Menetapkan tujuan dan target bisnis
  • Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut
  • Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan
  • Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis
     2.  Fungsi Pengorganisasian (Organizing)


Proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi

Kegiatan dalam Fungsi Pengorganisasian
  • Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yang diperlukan
  • Menetapkan struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan tanggungjawab
  • Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia/tenaga kerja
  • Kegiatan penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat
     3. Fungsi Pengarahan dan Implementasi

Proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggungjawabnya dengan penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi.

Kegiatan dalam Fungsi Pengarahan dan Implementasi
  • Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan
  • Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan
  • Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan
     4. Fungsi Pengawasan dan Pengendalian (Controlling)

Proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.

Kegiatan dalam Fungsi Pengawasan dan Pengendalian
  • Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan
  • Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan
  • Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target bisnis
Organisasi

Organisasi dalam arti Statis (diam) merupakan wadah atau tempat kegiatan administrasi dan manajemen berlangsung, dengan gambaran yang jelas tentang saluran hirarki daripada kedudukan, jabatan wewenag, dan garis komando dan tanggung jawab.

Sedangkan organisasi dalam arti Dinamis (bergerak) merupakan proses kerjasama antara orang-orang yang tergabung dalam suatau wadah tertentu umtuk mencapai tujuan bersama seperti yang telah ditetapkan secara bersama pula.

Dalam arti paling umum, psikologi organisasi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku individu dan perilaku kelompok dalam aturan organisasi formal. Organisasi kerja/industri dipandang sebagai sistem di kelompok yg saling berkaitan à Individu menjadi satu anggota atau beberapa kelompok sosial.

Organisasi (Industri)
       Dapat dipandang sebagai suatu sistem terbuka
       Sistem dilingkupi  oleh suatu batas sistem

Proses timbulnya organisasi kerja atau industri 
       Berdasarkan suatu perencanaan
       Mulai dari satu orang

Kelompok yaitu sejumlah orang yang berinteraksi satu dengan yang lainnya, secara psikologikal ada satu sama lain, dan mempersepsikan diri mereka sendiri sebagai kelompok.

       Kelompok formal yaitu diberi batasan yang berisi rincian tugas-tugas dan tanggung jawab tertentu.
  • Kelompok komando
  • Kelompok tugas

       Kelompok informal yaitu tidak diberi batasan oleh struktur organisasi dan terjadi secara spontan antara sejumlah tenaga kerja.

Fungsi Kelompok Bagi Anggotanya
  • Fungsi kelompok sebagai pemenuhan kebutuhan para anggotanya
  • Fungsi kelompok sebagai pengembang, penunjang dan pemantap dari identitas dan pemeliara harga diri
  • Fungsi kelompok sebagai penetap dan penguji kenyataan atau realitas sosial
  • Fungsi kelompok sebagai mekanisme pemecahan masalah dan pelaksanaan tugas
Interaksi Antara Anggota Kelompok

Setiap kelompok kerja terdiri dari sejumlah tenaga kerja yang saling mempengaruhi dan saling tergantung. Tapi derajat pengaruh dan ketergantungannya tidak slalu sama
       Kelompok Interaksi
       Kelompok Koaksi
  • Sumber daya
       Sumber Daya Manusia
       Sumber Daya Informasi
       Sumber Daya Fisik
       Sumber Daya Keuangan
       Sumber Daya Alam

Proses Organisasi
Bentuk sosialisasi yang efektif meliputi empat unsur pokok yaitu :
  1. Organisasi mendorong karyawan agar tetap setia dengan memberikan imbalan
  2. Organisasi mempengaruhi karyawan agar tetap setia melalui bujukan bukan paksaan
  3. Organisasi mengalihkan karyawan dari nilai dan tujuan mereka menuju nilai – nilai dan tujuan organisasi
  4. Organisasi memberi penampilan bahwa karyawan boleh melakukan pilihan bebas pada saat pengangkatan dan tetap bekerja.
Karakteristik Organisasi
  1. Punya maksud tertentu, dan merupakan kumpulan berbagai manusia
  2. Punya hubungan sekunder (impersonal)
  3. Punya tujuan yang khusus dan terbatas
  4. Punya kegiatan kerjasama pendukung
  5. Terintegrasi dalam sistem sosial yang lebih luas
  6. Menghasilkan barang dan jasa untuk lingkungannya dan sangat terpengaruh atas setiap perubahan lingkungan.
Organisasi berbeda dari pengorganisasian, karena pengorganisasian adalah fungsi dari manajemen dan merupakan suatu proses yang dinamis sedangkan organisasi merupakan alat atau wadah yang bersifat statis. Dalam mencapai maksud dan tujuan organisasi, ada empat fungsi organisasi yang perlu diperhatikan berkaitan dengan manajemen organisasi, yakni:a. Planning (perencanaan)b. Organizing (pengaturan)c. Accounting (pelaporan)d. Controling (pengawasan)

Jenis Perencanaan Dalam Organisasi
Berdasarkan tujuan organisasi, perencanaan dikelompokkan  dalam 3 jenis perencanaan  :
  1. Perencanaan StrategisDari misi organisasi diturunkan tujuan strategis. Rencana strategis ditujukan untuk mencapai tujuan strategis. Biasanya rencana strategis ditetapkan oleh manajemen puncak.
  2. Perencanaan TaktisRencana taktis diturunkan dari misi dan rencana strategis. Rencana taktis ditujukan untuk mencapai tujuan taktis yang merupakan bagian tertentu dari rencana strategis. Fokus pada hubungan manusia dan aksi, dan biasanya ditetapkan oleh menajemen menengah.
  3. Perencanaan OperasionalTujuan operasinal diturunkan dari tujuan dan rencana taktis. Rencana operasional lebih sempit dengan jangka waktu yang lebih pendek dan banyak melibatkan  manajemen tingkat bawah.
Rencana Tunggal (sekali pakai)Untuk aktivitas tidak berulang, contoh: program, proyek, dan anggaran.

Rencana Standing
Untuk aktivitas yang berulang, contoh: kebijakan, prosedur standar, dan aturan.

Rabu, 03 Februari 2016

PSIKOLOGI & TEKNOLOGI INTERNET

-          Nama                     : Ashfiya Hilyah Awlitya
-          NPM                     : 11514739
-          Chapter                 : 2 “Children and The Internet”

Anak - Anak dan Internet
            Internet adalah lingkungan virtual yang luas. Anak-anak dapat mengakses banyak informasi dari internet. Mereka dapat berkomunikasi, seperti berbagai pengalaman dengan orang lain dari seluruh dunia, mendengarkan musik dari seluruh dunia, dan hal-hal yang bermanfaat lainnya. Namun, disisi lain anak-anak dapat melakukan hal-hal yang buruk. Seperti ajakan seksual, predasi, cyber bullying, dan pelecehan. Bagaimana kita dapat membantu mereka meningkatkan aspek kognitif, tapi disisi lain juga melindungi mereka dari sisi gelap internet?
            Meskipun media berita cepat untuk melaporkan setiap situasi atau kejadian dimana anak-anak terpengaruh oleh internet, tapi kita baru belajar tentang penggunaan anak-anak dari internet. Kita perlu pendekatan yang menumbuhkan prinsip anak-anak untuk memahami lingkungan baru ini dan interaksi yang baik dengan internet karena anak-anak merupakan sasaran yang empuk bagi predator seksual dan cyber bullying.
Apa yang Anak-Anak lakukan ketika mengakses internet?
            Menurut Research Environics Group pada Tahun 2001 oleh Kaiser Family Foundation, sebagian besar anak-anak di Amerika Serikat dan Kanada telah mengakses internet. Penggunaan internet sedikit lebih rendah di kota-kota maju misalnya Livingstone dan Bober.
            Selain itu, anak-anak mengakses Internet dari usia yang sangat dini. Dalam survei 2001 Kanada untuk Media Awareness Network (Environics Research Group, 2001), 15% dari remaja di bawah usia 18 tahun teringat belajar untuk menggunakan Internet pada 7 tahun atau lebih muda. Dalam 2003 Amerika Serikat survei dari orang tua menemukan bahwa anak-anak mulai mencari situs Web tanpa pengawasan orangtua di usia 4 tahun dan mengirim e-mail sendiri sedini usia 3 tahun. Jelas, anak-anak tenggelam dalam lingkungan Internet dalam jumlah yang meningkat.
            Anak-anak terutama mengakses internet melalui World Wide Web. Anak-anak menggunakan Web untuk mengakses sumber daya informasi melalui pencarian Web dan browsing disukai situs Web; berkomunikasi menggunakan e-mail, instant messaging, dan diskusi; dan musik akses, video, dan permainan komputer (Environics Research Group, 2001; Rideout et al, 2003;.. Roberts et al, 2005).
            Dalam mengakses internet, terdapar layanan e-mail khusus untuk anak seperti KidMail (http://kidmail.net ) dan Surf Teman (http://www.surfbuddies.com ). Kedua akses tersebut bebas spam, aman, mengeluarkan biaya yang kecil. Akses ini memungkinkan orangtua untuk membatasi kontak e-mail anak-anak dan program yang secara otomatis menyaring konten yang dipertanyakan.
            Direktori pencarian yang dirancang khusus untuk anak-anak adalah Yahooligans (http://yahooligans.com) dan Ask Jeeves (http://www.ajkids.com/) untuk anak-anak. Akses yang dapat dicari atau diakses ini telah diverivikasi sesuai untuk anak-anak oleh tim konsultan pendidikan.
            Banyak juga terdapat sumber hiburan yang dirancang khusus untuk anak-anak yaitu seperti Broadcasting Corporation Umum (http://pbskids.org/), Warner Brothers (misalnya, http://harrypotter.com)  dan Scholastic (misalnya http://scholastic.com). Sumber hiburan tersebut mengembangkan informasi dan permainan untuk anak-anal. Sebagian besar sumber daya ini mandiri dan tidak mengandung link off-site.
            Akses internet anak-anak pun dapat dikontrol melalui program filtering, seperti Net Nanny (http://netnanny.com/) atau Cyber Sitter (http: // www.cybersitter.com/). Adapun browser untuk anak-anak seperti zExplorer (http: // www. zxplorer.com/). Program-program komersial ini membatasi akses anak-anak ke Internet, penyaringan spam, iklan, dan konten yang pantas untuk anak-anak.  Namun terdapat kelemahannya, yaitu anak anak tidak dapat mengakses infromasi dari berbagai infromasi, seperti World Book Encyclopedia. Akhirnya, anak-anak tidak dapat belajar secara aktif, tidak dapat menilai dan mengevaluasi informasi dari internet.
Kekhawatiran
            Seacara hostoris, orangtua, guru, dan pers telah khawatir tentang efek samping dan media baru pada anak-anak. Film, radio, dan televisi berpotensi bahaya bagi perkembangan anak. Komputer dipandang merampas peluang anak untuk berkembang secara sosial dan fisik. Contohnya adalah waktu yang dihabiskan lama saat didepan layar komputer atau televisi. Kritikus khawatir anak aak menjadi korban predator seksual dan cyber bullying.
Perkembangan Sosial
            Kritikus mengatakan bahwa penggunaan komputer mengarah ke isolasi sosial, yang dapat menyebabkan depresi dan gangguan mental lainnya. Kekhawatiran ini ditunjukan dengan korelasi antara isolasi sosial, depresi, dan penggunaan komputer. Kraut et al tahun 1995-1998 melaporkan survei penggunaan internet sebagai bagian dari studi HomeNet mengenai dampak internet pada interaksi sosial. Hasilnya yaitu terjadi penurunan dalam interaksi sosial dan peningkatan pada gejala depresi selama beberapa bukan pertama mereka menggunakan internet. Dalam penelitian kedua, survei menemukan adanya peningkatan yang lebih besar terhadap anak-anak yang ekstrovert dan orang dewasa dalam interaksi sosial, dan harga diri sebagai fungsi dari peningkatan penggunaan internet. Penelitian lain menunjukan bahwa internet dapat memiliki efek positif pada pembangunan sosial. Stern pada tahun 2002, menganalisis situs Web pribadi gadis-gadis remaja, Stern berpendapat bahwa internet memberikan kesempatan yang baik bagi anak-anak untuk mengeskspresikan diri mereka dalam mengembangkan sosial dan seksual.
            Gross et al pada tahun 2002 meneliti hubungan antara kesejahteraan dan kedekatan mitra “instant messaging” pada remaja berusia 11-13 tahun. Kalangan yang menggunakan “instant messaging” merasakan  nyaman dalam interaksi sosial mereka terutama dengan teman-teman sekolah. Sedangkan, remaja yang merasa terisolasi secara sosial juga berkomunikasi dengan orang yang mereka tidak tahu dengan baik.
            Memang, komunikasi online dapat membantu anak-anak mengembangkan rasa diri di lingkungannya. Subrahman dkk tahun 2004, menganalisis 30 menit transkip chat room dari 52 remaja yang berbeda. Topik yang lebih banyak dibahas adalah tentang olahraga, seks, dan kekhawatiran orangtua. Sehingga Subrahmanyam menyimpulkan bahwa internet dapat menyediakan lingkungan aman secara sosial.
            Suzuki dan Calzo pada tahun 2004 meneliti masalah umum remaja dan berdiskusi di chat tentang seksualitas selama satu bulan dan menemukan hasil yang mirip dengan yang diteliti oleh Subrahmanyam. Suzuki Calzo berpendapat bahwa chat room memungkinkan anak-anak untuk jujur membahas dan menerima dukungan sosial untuk masalah-masalah remaja yang memalukan.
            Dari penelitiannya, Greenfi mengungkapkan bahwa pembangunan sosial dan internet dilakukan sampai saat ini adalah walaupun internet dapat membuat anak-anak terisolasi dan depresi. Namun, internet dapat menyediakan lingkungan yang positif bagi perkembangan sosial melalu banyak cara, contohnya adalah e-mail, chatting, dan instant messaging.
Sambungan Diinginkan Untuk Pornografi Dan Benci
            Dalam internet terdapat ratudan situs web yang berbau pornografi. Anak-anak dapat mengakses pornografi dalam berbagai cara, entah itu disengaja atau tidak. Namun, anak-anak lebih mungkin untuk mengakses pornografi secara tidak disengaja. Hal ini terjadi karena pencaian kata kunci yang sangat mudah, dan iklan yang dimunculkan oleh distribusor pornografi untuk mencari pelanggan baru.
            Dari hasil data dari Survei Keamanan Internet Youth menemukan bahwa seperempat dari anak-anak yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka tidak sengaja terpapar pornografi, yang dimana 75% melalui situs Web dan 25% melalui e-mail atau instant messaging. Meskipun seperempat dari anak-anak tidak sengaja terpapar pornografi, mereka mengaku sangat kecewa (diwakili 6% dari total sampel).
            Gernstenfeld dkk tahun 2003 melakukan analisis dari situs internet yang diselenggarakan oleh Nasionalis putih, neo-Nazi, skinhead, Ku Klux Klan, identitas kristen, penolakan Holocaust, dan kelompok lainnya. Hanya satu setengah dari situs yang termasuk simbol kebencian, seperti swastika atau pembakaran salib. Meskipun beberapa situs termasuk sumber pengetahuan bagi anak-anak, tapi kurangnya simbol serta klaim non rasisme, non kekerasan atau bahasa mengenai rasisme dan kekerasan dapat menyebabkan kebingungan di kalangan anak-anak.
Predasi dan Bullying
            Survei Keselamatan Pemuda Internet, melaporkan hampir 20% responden yang berusia 10-17 tahun menerima ajakan seksual melalui chatting. Ajakan seksual yang berupa permintaan langsung untuk bertemu, meminta seorang gadis perempuan tentang ukuran bra nya, meminta anak laki-laki untuk terlibat dalam cyber sex, dan mengirim gambar seksual yang eksplisit. Anak-anak yang bermasalah, depresi, atau mempunyai masalah keluarga menerima ajakan seksual lebih tinggi dibandingkan yang tidak bermasalah. Begitu pula terjadi pada anak-anal yang lebih sering munggunakan internet.
            Baru-baru ini, aparat penegak hukum mulai menyamar di internet untuk memerangi kejahatan seksual pada anak-anak. Wolak et al tahun 2003 mengalanisis penangkapan yang dilakukan di Amerika Serikat selama 2000-2001, ditemukan bahwa 508 kasus dimana predator menggunakan internet untuk memikat anak-anak. Mitchell et al tahun 2005 menyimpulkan bahwa internet telah meningkatkan kemampuan lembaga penegak hukum untuk mendeteksi dan mencegah kejahatan pada anak.
            Ybarra tahun 2004 menganalisis karakteristik yang terkait dengan korban pelecehan internet dari Survey Keamanan Internet Youth. Satu sepertiga dari anak-anak yang telah dilecehkan merasakan kecewa. Pada laki-laki mengalami gejala depresi, misalnya penurunan perasaan diri, kesulitan menyelesaikan tugas sekolah, dan kesulitan dalam kebersihan pribadi. Ynarra berpendapat bahwa hubungan antara depresi dan pelecehan membuat pelecehan internet merupakan masalah kesehatan mental yang penting.
            Ybarra dan Mitchell menemukan bahwa 15% responden dari Survey Keamanan Internet Youth mengindikasikan bahwa mereka telah membuat komentar yang kasar dan jahat, 1% menggunakan internet untuk mempermalukan dan melecehkan seseorang dalam satu tahun terakhir. Pelaku pelecehan tersebut cenderung berasal dari keluarga miskin dan terlibat dalam penyalahgunaan zar dan kenakalan.
            Internet menyediakan akses yang lebih besar untuk anak-anak dan lingkungan yang lebih besar dimana anak-anak dapat terlibat dalam bullying dan pelecehan.
Menjadi Pengguna Internet yang Diharapkan
            Ada  pendekatan untuk melindungi anak-anak dari efek internet yang merusak, yaitu :
1.      Pendekatan yang mengatur bahan apa yang dapat didistribusikan di Internet. Undang-Udang Perlindungan Oneline (COPA) disahkan oleh Kongres Amerika Serikat pada tahun 1998, yang melarang penyedia layanan internet komersial mendistribusikan konten yang dilarang untuk anak di bawah umur.
  1. Pendekatan untuk melindungi anak-anak dari bahaya internet dengan mengembangkan perangkat lunak untuk menyaring/ memblokir akses anak-anak terhadap sumber daya ofensif.
            Pendekatan pertama dan kedua saling berhubungan untuk dapat memblokir konten yang tidak boleh diakses oleh anak-anak. Namun, internet terlalu besar sehingga menyaring konten tersebut tidak mudah, apalagi ada beberapa negara yang kebal terhadap undang-undang. Studi perangkat lunak penyaringan menemukan bahwa sebagian besar perangkat lunak yang memblokir pornografi sangat baik, namun hal itu juga akan memblokir tentang pendidikan mengenai seks. Padahal pendidikan tersebut sangat dibutuhkan.
  1. Pendekatan yang mengajarkan anak-anak untuk kritis menilai sendiri.  Pendekatan itu kemungkinan adalah pendekatan yang paling sukses. Keterampilan berpikir kritis mendasari hampir semua pengambilan keputusan untuk membuat keputusan tentang perilaku seksual, pembelian, dan pengumpulan informasi.
            Anak-anak menjadi lebih kritis dengan informasi yang mereka temukan di internet ketika mereka mengandalkan internet sebagai suatu informasi yang penting. Sebagian anak-anak menggunakan internet untuk mengerjakan tugas sekolah mereka. Penilaian kritis juga diperlukan saat mereka membaca artikel dari internet, mereka perlu menilai penulis dari sumber internet yang dia dapat, misalnya tentang jerawat. Jika penulis berpengetahuan, makan informasi tersebut lebih dipercaya daripada penulis yang memiliki pengetahuan yang terbatas. Mereka harus dapat menilai objektifitas, kelengkapan informasi dari artikel tersebut. Sebuah sumber daya dengan tujuan memberikan informasi medis lebih mungkin kredibel daripada yang dirancang untuk menjual atau membujuk. Terkait dengan tujuan tersebut, anak-anak juga perlu menilai keaslian informasi, seperti menentukan apakah sumber daya tersebut relevan dengan kebutuhannya. Anak-anak mungkin kurang mepertimbangkan secara kritis untuk menilai jenis sumber daya internet, seperti game, chatting, instant messaging, musik, dan video. Sebagai contoh, anak-anak cenderung men-download file apapun (musik, film, atau video) tanpa mempertimbangkan virus apa yang ada di file tersebut saat di download. Anak-anak perlu belajar untuk menilai dengan kritis sumber daya dan komunikasi yang mereka hadapi di internet. Pustakawan dan guru sekolah telah mengembangkan sejumlah sumber informasi untuk membantu anak-anak belajar agar dapat lebih kritis untuk menilai sumber infprmasi.  Salah satu sumber daya yang tertua dan paling terkenal menyediakan satu set pertanyaan ya / tidak untuk anak-anak dari berbagai usia. Didalam informasi tersebut, mereka menemukan dan mengevaluasi sumber informasi Web. Anak-anak usia SD awal didorong untuk mempertimbangkan apakah mereka setuju atau tidak setuju dengan informasi tersebut. Sedangkan, remaja didorong untuk kritis menilai isi dan otoritas informasi.
Media Awareness Network telah mengembangkan sejumlah permainan yang tersedia untuk anak-anak, mulai dari Petualangan Three Little Cyber Pigs yang merupakan permainan untuk anak-anak usia 8-10 tahun.
            Pusat Nasional telah mengembangkan sumber pelatihan online yang bernama Netsmartz (http://netsmartz.org) yang mencakup daftar evaluasi, tips untuk orangtua, game, dan kuis. Hasilnya, tiga perempat remaja mengindikasikan bahwa mereka mengubah perilaku mereka di internet sebagai hasil dari apa yang mereka pelajari melalui Netsmartz.
            Perangkat lunak dapat membantu anak-anak untuk belajar mengendalikan perilaku mereka di internet dengan memaksa mereka untuk berpikir kritis dan menilai sumber daya internet sebelum menggunakannya. Terdapat aplikasi checklist sederhana yang dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan penilaian yang kritis. Aplikasi seperti ini membantu anak-anak belajar untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari, sumber-sumber pengajaran, dan kegiatan keamanan internet.

            Internet adalah lingkungan virtual yang tidak terbatas dengan banyak manfaa tuntuk perkembangan kognitif dan sosial anak yang positif. Anak-anak dapat mengunjungi banyak web, mengeskplorasi banyak budaya, mencoba berbagai teknologi, dan berkomunikasi denga banyak orang yang berbeda. Namun, internet juga memiliki sisi buruk, anak-anak dapat terkena pornografi, dilecehkan, diintai, dan diculik. Kita harus dapat memberdayakan anak-anak kita untuk mendapatkan keterampilan berpikir kritis dan menjadi pengguna internet yang bijaksana. Kita dapat membantu mereka memperluas pikiran dan dunia mereka dengan aman melalu internet.

PSIKOLOGI & TEKNOLOGI INTERNET

-          Nama               : Febriani Amisesa Hadi
-          NPM               : 14514116
-         Chapter           : 4 “Intrapersonal”

Disinhibisi dan Internet
            Selama sepuluh tahun terakhir penelitian tentang psikologi dan internet telah menjadi pemahaman umum bahwa orang sering berprilaku berbeda ketika online. Mereka mungkin menjadi genit saat online dan pemalu saat offline. Mereka mungkin meneruskan email orang lain secara online dengan kebijaksanaan. Atau, mereka mungkin mencari informasi secara online (seperti informasi kesehatan atau pornografi) bahwa mereka tidaka akan sembarangan melakukan offline. Perbedaan umum ini telah disebut “rasa malu” (Joinson, 1998) atau “efek rasa malu secara online” (Suler,2004). Dalam definisi rasa malu yang disediakan di edisi pertama ini buku, Joinson (1998), berpendapat bahwa “jika penghambatan adalah ketika prilaku dibatasi atau tertahan melalui kesadaran diri, kecemasan tentang situasi sosial, kekhawatiran tentang evaluasi publik dan sebagainya (Zimbardo, 1997) maka rasa malu dapat ditandai dengan tidak adanya atau pembalikan dari faktor-faktor yang sama. Rasa malu pada internet dipandang sebagai prilaku yang ditandai dengan penurunan jelas pada kekhawatiran untuk presentasi diri dan penilaian orang lain. Satu keuntungan (dan masalah) dari definisi ini adalah yang ketidakjelasan-penggunaan kata “jelas” memungkinkan penjelasan berikutnya untuk mengobati untuk prestasi diri sebagai variabel dependen tanpa efek jelas, atau sebagai independen variabel yang dalam beberapa cara menjelaskan prilaku online. Selain itu, mengurangi prestasi diri jelas dimata yang melihatnya, yang memungkinkan peneliti untuk menerapkan pandangan mereka sendiri tentang apa yang “normal” dengan prilaku orang-orang yang mereka pelajari. Namun rasa malu dikalangan pengguna internet telah terbukti menjadi istilah sulit. Penjelasan seperti biasanya mengandalkan aspek lingkungan online, misalnya, anonimitas atau asynchronicity, untuk menjelaskan efek disinhibinasi.
BUKTI UNTUK RASA MALU
PENGUNGKAPAN DIRI DAN INTERNET
            Sebuah badan bukti eksperimental dan bersifat anekdot menunjukkan bahwa komputer komunikasi dimediasi (CMC) dan umum prilaku berbasis internet bisa dicirikan sebagai keterbukaan diri. Pengungkapan diri telah dipelajari di sejumlah pengguna komputer yang berbeda. Dalam serangkaian penelitian yang dilaporkan oleh Joinson, tingkat pengungkapan diri diukur dengan menggunakan analisis isi transkip dari tatap muka dan diskusi CMC sinkron, dan dalam kondisi anonimitas visual dan link video selama CMC. Sesuai efek prediksi, pengungkapan diri secara signifikan lebih tinggi ketika peserta mengobrol menggunakan sistem CMC sebagai lawan FTF. Dalam studi kedua, menggabungkan link video sementara peserta mengobrol menggunakan program CMC menyebabkan tingkat keterbukaan diri mirip dengan TFT, sedangkan kondisi perbandingan (ada link video) menyebabkan tingkat signifikan lebih tinggi dari pengungkapan diri. Kedua penelitian bersama-sama memberikan dukungan empiris yang secara visual anonim CMC cenderung mengarah ke tingkat yang lebih tinggi dari pengungkapan diri. Hasil studi ini juga menunjukan bahwa tingkat tinggi pengungkapan diri secara efektif dirancang dari interaksi internet. Menurut teori pengurangan ketidakpastian termotifasi untuk mengurangi ketidakpastian dalam interaksi untuk meningkatkan prediktibilitas. Dalam interaksi FTF, ketidakpastian dapat dikurangi melalui kedua komunikasi dan isyarat verbal dan non verbal. Mengingat kebutuhan untuk tingkat respon yang tinggi untuk mrngurangi kesalahan sampling dalam survei , dan kebutuhan untuk pengungkapan jujur untuk menjaga kualitas data, perdagangan ini potensi off antara tingkat respon dan pengungkapan penting.
FLAMING dan PRILAKU ANTI-SOSIAL
            Dalam format aslinya, “menyala” disebut gencarnya berbicara atau obrolan sia-sia. Namun, itu datang untuk umumnya dilihat sebagai prilaku negatif atau anti sosial pada jaringan komputer. Ketika pesan antagonis atau agresif seperti yang diperdagangkan antara orang-orang , itu menjadi “perang”. Penelitian akademik ke gejolak telah terhambat oleh kurangnya kejelasan dalam definisi yang digunakan untuk mengukur dalam penelitian laboratoriun. Misalnya, Kiesler dll. (1985) dioperasionalkan menyala sebagai:
·         Pernyataan sopan
·         Sumpah/flirting
·         Seruan
·         Ekspresi perasaan pribadi terhadap yang lain
·         Penggunaan superlatif
            Operationalizations berbeda dari flaming termasuk hal-hal seperti senonoh, “tipografi energi” (misalnya, tanda seru), nama panggilan, bersumpah, dan negatif umum mempengaruhi. Ketika fokus dari proyek penelitian bergerak dari menyala untuk “tanpa hambatan” komunikasi, definisi melebar untuk menyertakan pesan bahkan non-tugas berdasarkan dan menyampaikan berita buruk. Masalah selanjutnya dengan definisi dan operasionalisasi gejolak itu adalah link apiori untuk komunikasi melalui komputer. Dalam banyak kasus, flaming, menurut definisi, sesuatu yang baik hanya terjadi pada jaringan komputer, unik untuk jaringan komputer, atau lebih jelas pada jaringan komputer dari tatap muka.
BUKTI EMPIRIS UNTUK FLAMING
            Dalam tiga penelitian diuraikan tingkat prilaku verbal tanpa hambatan dibandingkan dalam empat kondisi: komunikasi, konferensi tatap muka anonim komputer (satu-ke-banyak), dan email. Mereka menemukan bahwa gejolak terjadi 94 kali dalam diskusi berbasis teks (4,72% dari komentar), dibandingkan dengan 8 kali (0,21%) dan 16 kali (0,39) dalam kondisi tatap muka dan video conferencing, masing-masing. Jadi, meskipun gejolak jarang, itu secara signifikan lebih mungkin terjadi dalam diskusi berbasis teks daripada tatap muka atau video conferencing. Mereka tidak menenmukan adanya hubungan antara ketegasan individu atau keakraban kelompok dan menyala, meskipun menjadi lebih akrab dengan anggota kelompok lainnya. Coleman meneliti diskusi dari 58 tatap muka dan 59 peserta CMC membahas topik set dalam kelompok 3-7 orang. Diskusi berikutnya yang dinilai pada (antara lain), negaif. Pernyataan positif atau netral diberi skor sebagai 1; laporan yang berisi ketidaksetujuan terbuka atau kritik mencetak 2; senonoh, permusuhan, dan nama-panggilan dicetak sebagai 3 tingkat negatif antara kedua kelompok tidak berbeda untuk kelompok CMC itu 1,24, sedangkan untuk kelompok FTF itu 1,21. Mereka mempelajari komunikasi email dari 96 staf, serta kuesioner mengumpulkan tanggapan. Sesuai dengan prediksi mereka, Sproull dan kiesler menemukan bahwa peserta mereka melaporkan melihat 33 pada email dalam sebulan, dan hanya 4 tatap muka interaksi. Singkatnya, kemudian, meskipun gejolak relatif jarang, ada bukti bahwa itu adalah lebih mungkin terjadi di CMC dari FTF. Namun, bagian dari masalah adalah sifat arsip banyak CMC flame tunggal dapat diteruskan, menyimpan, dan kembali membaca online.

RASA MALU dan DUNIA WORLD WEB WIDE (WWW)
            Sepanjang diskusi ini, fokus perhatian pada komunikasi. Namun, ada juga bukti bahwa prilaku di WWW, sementara tidak diperlukan “menyimpang” dapat dilihat (setidaknya sekali)sebagai disinhibisi. Studi psikologis WWW cenderung fokus pada tiga bidang utama: penggunaan WWW utnuk melakukan penelitian psikologis. Misalnya, interaksi dengan antar muka WWWdan kegunaan; proses psikologis yang terlibat dalam prilaku WWW. Namun, meskipun penting dalam mempopulerkan internet diluar lingkungan akademis dan militer, proses psikologis yang terkait dengan pencarian informasi (atau”browsing”) di WWW telah menerima sedikit perhatian dari para peneliti psikologis. Kelalaian WWW dari badan mengembangkan pengetahuan perilaku sosial di internet adalah bermasalah karena WWW melaju banyak pembangunan di internet dalam hal penggunaan dan aplikasi/inovasi. Sementara jumlah hampir tak terbatas dari informasi yang tersedia di WWW sering disebut-sebut sebagai salah satu alasan utama untuk mengakses internet, sedikit yang diketahui tentang proses psikologis yang mendukung pencarian informasi tersebut.
INTERNET PORNOGRAFI
            Salah satu bidang prilaku WWW yang telah menerima beberapa penelitian perhatian adalah mengakses materi pornografi. Pornografi jauh lebih mudah diakses di internet daripada diatas kertas, peningkatan aksesibilitas tidak hanya circumvents hukum diadakan secara lokal pada kecabulan (efektif mengurangi apa yang diterima untuk common denomintor terendah karena disitulah situs Web akan diselenggarakan), tetapi juga menghilangkan banyak hambatan psikologis yang terkait dengan membeli pornografi ditoko lokal seseorang. Hal ini umumnya menuduh bahwa pornografi telah berada digaris depan perkembangan teknologi di WWW. Yang pasti, pornografi telah cepat untuk menggunakan teknologi baru penemu fotografi, telepon dan telegraf, bioskop dan 8mm film, dan video VHS dengan cepat diikuti oleh pengguna teknologi untuk pornografi. Kembali tahun 1980-an, itu sama berpendapat bahwa pornogrfai dan horor film adalah “pembunuh app” video dan video “privilege” yang terlibat dalam hasil-hasil sosial negatif dalam cara yang sama internet saat ini. Namun, isi dan kuantitas pornografi di Internet telah berada di bawah-diteliti oleh psikolog cyber. Pada bagian, ini adalah karena kontroversi yang diikuti publikasi dan berikutnya publisitas dari studi oleh Rimm pada tahun 1995. Rimm, seorang peneliti di Carnegie Mellon University, yang disurvei gambar seksual yang tersedia di Usenet dan membayar-untuk-view layanan berlangganan. Laporan itu dijemput oleh majalah Time, yang berlari cerita sampul tentang "pornografi di!" Berdasarkan sebagian pada studi oleh Rimm, cerita majalah Time menyatakan bahwa 83,5% dari gambar pada Usenet pornografi di alam, dan bahwa perdagangan dalam pornografi adalah salah satu yang paling populer, jika bukan yang paling populer, aktivitas di Internet.Dari 900.000 kejadian materi seksual yang eksplisit dikumpulkan, kurang dari 1% berasal dari Usenet-sisa dari server langganan (yang umumnya memerlukan rincian kartu kredit).Tapi, gagasan bahwa Internet adalah dibanjiri dengan pornografi masih tetap.

FORMAT DARI PORNOGRAFI DI INTERNET
            Studi Rimm dari gambar-gambar porno berusaha untuk menganalisis mereka untuk konten dengan secara otomatis mengumpulkan deskripsi dari gambar. Sebagai deskripsi gambar mungkin akan lebih terkait dengan iklan dari tentu konten yang sebenarnya, ada kemungkinan bahwa metode infl ini diciptakan tingkat kecabulan.. Sebagian besar gambar yang diposting yang oleh anonim pengguna Usenet nonkomersial (65%). Tema utama yang muncul dari analisis yang closeups alat kelamin manusia (43%), tegak penis (35%), fetishes (33%), dan masturbasi (21%). umlah bahan paling mungkin dianggap ilegal di sebagian besar negara juga tinggi: 15% dari gambar baik yang terkandung anak-anak atau remaja atau pemuda signified dalam gambar atau teks. Parafilia lain dicatat, termasuk perbudakan dan disiplin (10%), penyisipan benda asing (17%), bestiality (10%), incest (1%), dan buang air kecil (3%).Mehta dan Plaza juga mencatat bahwa isi dari pornografi internet tampaknya berbeda dari yang majalah dan video. Misalnya, fellatio, homoseksualitas, dan kelompok seks yang lebih sering ditemukan di situs internet (15, 18, dan 11%, masing-masing) dibandingkan dalam studi yang sebanding media tradisional (8.1, 2-4, dan 1-3%, hormat).Keingintahuan, kemudian, daripada variabel lain tampaknya akan mendorong banyak kunjungan awal ke situs pornografi internet. Namun, persepsi anonimitas Web browsing mungkin membuat mengakses gambar-gambar porno sosial dan psikologis lebih aman online daripada offline. Tentu saja, itu juga jauh lebih nyaman, serta menyediakan, setidaknya untuk pengguna rumah, privasi dari konsumsi (distributor sesuatu pornografi bertujuan untuk banyak waktu).Persepsi anonimitas adalah sesuatu yang harus dirancang ke dalam sistem, bukan sesuatu yang Internet menyediakan sebagai hak kelahiran. Situs yang merancang dalam kurangnya jelas anonimitas (misalnya, prosedur pendaftaran wajib) secara efektif memasuki bernegosiasi dengan pengguna potensial yang mungkin membatasi potensi manfaat anonimitas pada perilaku Internet.

PENJELASAN dari RASA MALU di INTERNET

DEINDIVIDUATION
            Konsep deindividuation dapat ditelusuri ke peneliti Perancis Gustave Le Bon pada tahun 1895. Le Bon berpendapat bahwa menjadi anggota dari kerumunan menyebabkan penggenangan, sebuah negara di mana kendala normal pada perilaku individu dihapus. Dalam psikologi sosial modern eksperimental, yang deindividuation Istilah ini diciptakan oleh Festinger dkk. (1952) untuk menjelaskan mengapa laki-laki yang mengingat informasi kurang individuating menampilkan lebih banyak permusuhan terhadap orang tua mereka. Menurut Festinger et al., Ketika seseorang tidak diindividuasikan dalam kelompok, "ada kemungkinan akan terjadi untuk member pengurangan kendala dalam" (hal. 382). Pendekatan ini diperpanjang oleh penelitian Zimbardo (1969). Menurut Zimbardo, anonimitas, gairah, kelebihan indrawi, pikiran-mengubah obat, dan pengurangan diri fokus mengarah deindividuation dan dari situ ke disinhibited, perilaku bermusuhan. Menurut beberapa peneliti CMC, orang berkomunikasi melalui komputer mungkin deindividuated. Misalnya, Kiesler et al. (1984) berpendapat bahwa ketika pengguna CMC adalah anonim, dan mungkin ia difokuskan pada tugas di tangan, bukan penerima standar internal mereka, maka ia adalah deindividuated. Namun, pandangan ini dari pengguna CMC rata-rata deindividuated telah mengkritik keras (. Lea et al, 1992; Postmes & Spears, 1998; Reicher et al, 1995.). Lea dkk. (1992) berpendapat bahwa CMC tidak antinormative (seperti yang disarankan oleh penjelasan deindividuation), melainkan kadang-kadang di bawah kendali norma yang berasal dari identitas sosial yang aktif.

ISYARAT SOSIAL MENGURANGI
            Penjelasan terkait perilaku online disinhibited berasal dari bandwidth yang terbatas jaringan CMC, dan pengurangan berikutnya dituduhkan dalam isyarat-isyarat sosial selama interaksi. Ini, menurut mengurangi pendekatan isyarat-isyarat sosial, mengarah ke penurunan pengaruh infl dari norma-norma sosial dan kendala (Kiesler et al, 1984;.) Dan dengan demikian menyebabkan antinormative dan perilaku diregulasi. Menurut berkurang isyarat sosial (RSC) model, isyarat-isyarat sosial dan kontekstual yang lebih rendah menyebabkan (a) pergeseran atensi terhadap tugas daripada penerima, (b) pengurangan hirarki yang normal dengan menghapus petunjuk status, isyarat kepemimpinan, dan seterusnya, dan (c) deindividuation, disebabkan oleh kombinasi dari anonimitas, kurangnya diri dan lainnya-focus, dan self-regulation menurunkan (lihat Spears & Lea, 1992, untuk Ringkasan dari pendekatan ini). Namun, pendekatan RSC telah mengecam keras untuk mengambil "Socialness" dari CMC (lihat Spears & Lea, 1992). Menurut model RSC, pengaruh infl sosial di CMC akan terutama didasarkan pada keseimbangan informasi yang dipertukarkan (Kiesler et al., 1984). Namun, Spears dan Lea (1992) meringkas penelitian polarisasi kelompok yang menunjukkan bahwa CMC, dalam keadaan tertentu, mematuhi normatif infl pengaruh daripada pinjaman itu sendiri untuk perilaku antinormative. Namun, pengembangan hubungan online, di samping pengembangan isyarat interpersonal yang sosial (misalnya, smilies, tanda-tanda tindakan) dan isyarat kategori yang terkandung dalam header e-mail dan tanda tangan (misalnya, jenis kelamin, lokasi, pekerjaan), menunjukkan bahwa CMC tidak kekurangan "socialness" (Spears & Lea, 1992).

DUA-KOMPONEN DIRI-KESADARAN MODEL
            Ini juga telah berpendapat bahwa rasa malu sering terlihat dalam studi CMC mungkin karena lebih tinggi daripada rendah diri fokus (Joinson, 2001; Matheson & Zanna, 1988). Menurut Duval dan Wicklund (1972), perhatian sadar dapat diarahkan pada lingkungan (disebut "publik" kesadaran diri) atau ke arah diri (disebut "swasta" kesadaran diri). Kesadaran diri publik disebabkan oleh situasi di mana seorang individu menyadari kemungkinan sedang dievaluasi (misalnya, ketika sedang direkam atau dinilai) atau ketika mereka khas sosial (misalnya, ketika mereka adalah minoritas di kelompok). Kesadaran diri pribadi adalah ketika orang menyadari motif batin mereka, sikap, tujuan, dan sebagainya, dan dapat diinduksi, misalnya, dengan memiliki orang-orang melihat ke dalam cermin. Menurut Matheson dan Zanna, kesadaran diri pribadi dan umum dianggap "relatif ortogonal" (hal. 222), yaitu, seseorang dapat menyadari "baik, satu atau tidak aspek diri" (hal. 222) . Matheson dan Zanna berpendapat bahwa bukti dari CMC menunjukkan bahwa orang mungkin telah meningkatkan kesadaran diri pribadi, dan mengurangi kesadaran diri publik, selama CMC. Selanjutnya, orang cenderung untuk merespon dengan cara yang kurang diinginkan secara sosial ketika berkomunikasi melalui komputer dibandingkan dengan tes pena-dan-kertas (Kiesler & Sproull, 1986), terlepas dari tingkat anonimitas (Joinson, 1999). Kesadaran diri pribadi meningkat dengan menggunakan video feed dari peserta ke mereka sendiri layar sebagai setara dengan cermin. Itu berkurang dengan mengganti umpan video ini dengan kartun. Kesadaran diri publik berkurang dengan menekankan anonimitas dan ditingkatkan dengan meningkatkan isyarat akuntabilitas. Sassenberg dkk. (2005) meneliti peran kesadaran diri pribadi dalam perubahan sikap selama CMC. Mereka menemukan bahwa dampak media (CMC dibandingkan FTF) tentang perubahan sikap itu dimediasi oleh swasta kesadaran diri-yang, mengurangi perubahan sikap selama CMC dibandingkan dengan FTF itu tergantung pada peningkatan kesadaran diri pribadi selama CMC. Dalam penelitian kedua, mereka juga menemukan bukti bahwa swasta kesadaran diri sifat dimoderasi dampak media terhadap perubahan sikap.

SOSIAL IDENTITAS PENJELASAN DEINDIVIDUATION

EFEK (SIDE)
            Penjelasan lebih lanjut dari perilaku CMC berasal dari model SIDE (Reicher et al., 1995). Menurut model ini, kebanyakan deindividuation efek, dari yang dilaporkan oleh Zimbardo (1969) dan seterusnya, dapat dijelaskan tanpa bantuan deindividuation. Anonimitas, karena kurangnya fokus pada diri sebagai individu, cenderung mengarah pada aktivasi identitas sosial daripada aktivasi identitas pribadi (Reicher et al., 1995). Hal ini menyebabkan pengaturan perilaku berdasarkan norma-norma yang terkait dengan kelompok sosial yang menonjol. Misalnya, Reicher et al. (1995) melaporkan sebuah studi pada polarisasi kelompok di mana arti-penting dari keanggotaan kelompok (dalam hal ini, sebagai mahasiswa psikologi) dan anonimitas peserta dimanipulasi. Polarisasi kelompok adalah kecenderungan untuk sikap kelompok untuk menjadi lebih ekstrim (ke arah sikap rata-rata) mengikuti diskusi kelompok. Model SIDE memiliki culty sedikit lebih diffi menjelaskan rasa malu umum, daripada kelompok polarisasi, selama CMC. Salah satu penjelasan adalah untuk diskon adanya perilaku verbal tanpa hambatan, dan berpendapat bahwa itu mungkin baik context dependent dan normatif dalam CMC (misalnya, Lea et al., 1992). Namun, ini memerlukan identitas sosial menjadi penting, dan bahwa norma-norma yang terkait dengan identitas sosial terhadap rasa malu.

PENJELASAN MULTI-FAKTOR dan RASA MALU
Suler (2004) mengidentifikasi enam faktor utama yang menyebabkan "rasa malu secara online efek, "beberapa sebelumnya mapan, yang lain berdasarkan teori psikoanalitik. Ini adalah anonimitas disosiatif, tembus pandang, asynchronicity, introyeksi solipsistik, imajinasi disosiatif, dan minimalisasi otoritas. Suler berpendapat bahwa anonimitas online memungkinkan orang untuk kotakkan diri online mereka dan merasionalisasi bahwa perilaku online mereka 'tidak benar-benar sama sekali "(hal. 322). Gaib, menurut Suler, adalah anonimitas visual (seperti yang digunakan oleh peneliti SIDE) -yaitu, meskipun banyak interactants secara online mengenal satu sama lain, anonimitas visual yang mengarah pada situasi mirip dengan psikoterapis tradisional duduk di belakang klien untuk mendorong pengungkapan. Asynchronicity memungkinkan orang untuk terlibat dalam "hit emosional dan menjalankan"; mereka tidak perlu menghadapi reaksi langsung terhadap perilaku mereka. Sementara itu, introjeksi solipsistik ini disebabkan kurangnya pengguna isyarat-Internet visual atau verbal yang membaca pesan e-mail dalam suara mereka sendiri di kepala mereka, yang menyebabkan proses penggabungan dan mungkin transferensi. Suler mengklaim bahwa internet menyebabkan minimalisasi otoritas, lagi mendorong perilaku disinhibited.

PENDEKATAN PRIVASI BERBASIS UNTUK MEMAHAMI

Rasa malu
Joinson dan Paine (di media) berpendapat bahwa peningkatan pengawasan Kegiatan internet membuat penjelasan hanya berdasarkan anonimitas unviable. Misalnya, Internet, dan media baru pada umumnya, cenderung mengikis privasi melalui, antara metode lain, data mining, cookies, dan data jejak kaki. Joinson dan Paine berpendapat bahwa ini memungkinkan pengguna untuk membeli nama samaran, misalnya, melalui penggunaan julukan pada server obrolan. Sebuah proses kedua yang Joinson dan Paine mengidentifikasi berkaitan dengan biaya dan benefi ts dari suatu kegiatan. Banyak "disinhibited" kegiatan yang dilakukan secara online (misalnya, cybersex, pengungkapan diri, mengakses pornografi) membawa biaya dalam kehidupan nyata. Pengungkapan diri dapat membuat discloser rentan terhadap orang lain, saat mengakses pornografi dapat menjadi penyebab malu atau malu. Internet juga dapat mengatasi keseimbangan biaya dan benefi ts dengan mengurangi kemungkinan biaya dari perilaku-mengungkapkan rahasia lebih mudah jika penerima tidak tahu siapa Anda. Akhirnya, Joinson dan Paine berpendapat bahwa kontrol juga merupakan masalah penting. Walther (1996) berpendapat bahwa interaksi sosial hyperpersonal secara online terjadi, setidaknya sebagian, karena peningkatan kontrol yang diberikan oleh asynchronous, visual anonim CMC. Misalnya, kita dapat mengontrol informasi apa yang kita pilih untuk mengungkapkan, dengan cara apa, dan bagaimana kita mengungkapkannya.

KESIMPULAN

Disinhibisi adalah salah satu dari beberapa dilaporkan secara luas dan mencatat Media efek dari interaksi online. Namun, meskipun bukti bahwa rasa malu terjadi di sejumlah konteks yang berbeda secara online, termasuk CMC, Web-log dan penyerahan formulir Web, yang paling pendekatan untuk memahami fenomena membatasi diri untuk mempertimbangkan dampak dari faktor-anonimitas tunggal. Saya berpendapat bahwa dengan berfokus hanya pada efek tingkat mikro media ini, konteks yang lebih luas di mana perilaku tersebut dilakukan diabaikan-dan yang mengabaikan ini batas konteks bagaimana kita dapat konsep perilaku online. Dengan mempertimbangkan konteks yang lebih luas, dan khususnya, implikasinya untuk privasi, adalah mungkin untuk mengembangkan gambaran yang lebih bernuansa perilaku online disinhibited menemukan situasi.